Media Pembelajaran dan Kreativitas siswa & guru

Selasa, 10 November 2015

Pendidikan Anak Sekolah Dasar
Pendidikan dapat mempengaruhi perkembangan peserta didik dalam seluruh aspek kepribadian dan kehidupannya. Dengan demikian, pendidikan seharusnya dapat mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki peserta didik secara optimal baik dalam aspek fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spiritual.Namun demikian, pendidikan bukan semata-mata sebagai sarana untuk menyiapkan individu bagi kehidupannya di masa depan, tetapi juga untuk mengantar perjalanan hidup peserta didik yang sedang mengalami perkembangan
menuju kedewasaan. Fungsi yang mendasar dari pendidikan di SD adalah fungsi “edukatif” yang lebih menekankan kepada bagaimana peserta didik belajar dalam sebuah proses pembelajaran yang didasari dengan sikap asah, asih, dan asuh, sehingga benar-benar bermakna dan dapat dimengerti oleh peserta didik. Selain itu keterlibatan keluarga dan peranan guru di sekolah juga menjadi faktor penting dalam menciptakan suasana pembelajaran yang konduksif.
                                    Sehubungan dengan peran guru yang harus mampu berperan sebagai moderator, fasilitator, inovator, dan seabrek peran yang lain, guru juga dituntut untuk mampu berfungsi sebagai konselor bagi peserta didik yang mengalami gangguan dan masalah dalam proses pembelajaran. Sayangnya tidak semua guru mampu berfungsi sebagai konselor, sehingga kebutuhan peserta didik dalam hal ini menjadi terbengkalai. Ketidakpedulian guru terhadap peserta didik yang lamban, introvert, egois, dan agresif membuat peserta didik menjadi bertambah malas, acuh tak acuh, kurang konsentrasi, malas, menarik diri dari lingkungannya, bahkan bisa sampai pada taraf stres dan depresi. Fungsi edukatif sangat sesuai untuk pendidikan di SD karena cocok dengan kebutuhan dan karakteristik peserta didik SD yang notabene belum bisa mandiri dan masih berorientasi pada hal-hal yang bersifat konkrit serta selalu mengacu pada contoh/teladan dari orang-orang di sekitarnya. Optimalisasi potensi peserta didik dengan menciptakan proses pembelajaran yang kondusif dan melalui perencanaan yang matang dan sistematis, akan memudahkan peserta didik menyerap berbagai informasi yang mereka butuhkan dengan baik. Di samping itu interaksi sosial bersama guru sebagai “pembimbing” dan teman sebagai “tutor sebaya” sangat berpengaruh terhadap pencapaian prestasi yang lebih baik. Bahkan dalam hal-hal tertentu peran tutor sebaya lebih dibutuhkan bagi peserta didik daripada keterlibatan seorang guru, apalagi jika guru tidak mampu menjalin hubungan yang “mesra” dengan peserta didiknya, artinya guru tidak tahu atau tidak mau tahu akan kebutuhan peserta didiknya.
                                    Ironisnya masih banyak guru dan orang tua yang beranggapan bahwa peserta didik yang unggul dalam mata pelajaran tertentu, seperti: Matematika, IPA, Bahasa, adalah termasuk kategori peserta didik yang pandai, padahal mereka tentu memiliki kelemahan dalam mata pelajaran yang lain. Seharusnya peserta didik yang memiliki keunggulan dalam bidang lain, misalnya OR, musik, atau menari, juga dikategorikan ke dalam peserta didik yang pandai, bukan lalu dimasukkan dalam kelompok yang bodoh. Lebih menyedihkan lagi kegiatan remedial bagi yang belum tuntaspun masih jauh dari harapan, artinya refleksi dari guru sering dilupakan, tindaklanjut berupa bimbingan dan latihan tidak dilakukan. Kurang efektif jika kegiatan remedial hanya sekedar memberi tugas kepada peserta didik untuk belajar, lalu mengulang ujian/ulangan harian yang belum tuntas. Untuk itu dibutuhkan evaluasi diri dari setiap kita yang terlibat dalam dunia pendidikan agar lebih mampu menjadi panutan dan pendamping bagi anak-anak.
                                     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar